May 28, 2011

Assalammualaikum w.b.t




Alhamdulillah,segala puji untuk-Nya yang memberiku peluang bernafas sehari lagi di atas muka bumi-Nya.







i'm afraid.




-1:51 am, Klang.

May 20, 2011

sembilan puluh enam : my rockstar II

Assalammualaikum w.b.t






Alhamdulillah,segala puji untuk-Nya yang memberiku peluang bernafas sehari lagi di atas muka bumi-Nya.










Mei 19. hari khamis.






lebih kurang 3 minggu lagi, tempoh practical aku akan tamat. aku bersyukur pada Tuhan, kerana takdir-Nya menyusun aku ke sebuah pengalaman yang berharga. terutamanya, tentang karenah manusia.






jam 6:15 ptg. aku memandu kereta menuju ke arah KLIA untuk pulang ke rumah seperti biasa.






aku menoleh ke atas, awan begitu kelabu dan langit begitu gelap. begitu menggerunkan keadaan hari itu. hati aku berdebar-debar entah kenapa. awan seolah-olah 'geram' menanti masa ingin mencurahkan isinya sebanyak yang mungkin dan sederas yang boleh.






jam 6:58 ptg. aku masih di atas jalan raya, memandu dengan begitu berhati-hati. hujan terlalu lebat memaksa aku memasang wiper pada kelajuan maksimum. kenderaan di hadapan begitu kabur. yang kelihatan hanyalah merah-merah yang samar dari nyalaan lampu belakang.






aku tiba di Kota Seri Emas, Nilai. dalam hati aku sudah berkira-kira, kuyuplah aku kerana aku perlu keluar membuka pagar rumah. namun, sangkaan aku meleset. pagar rumah aku sudah siap dibuka. mungkin ayah. mungkin juga mama.






aku meluncur terus, masuk ke perkarangan rumah yang berbumbung. belum sempat aku matikan enjin kereta, aku ternampak kelibat seseorang memegang payung, meredah hujan yang begitu deras dan berat. payungnya diselit antara dagu dan bahunya. tangannya gigih memegang kunci dan mangga, menutup pagar rumah.






aku keluar dari kereta. kakiku seperti terpaku di tanah melihat kelibat itu. mataku tiba-tiba berpasir.






oh. mama rupanya.






mama tunggu anaknya pulang, membuka pintu dan kemudian menutupnya pula di bawah hujan lebat.






"time kasih,ma." kata aku setelah dia menoleh sambil menutup payung di hadapan pintu rumah. mama senyum.






"baik-baik, lantai ni licin," katanya sambil mengawasi aku berjalan masuk ke rumah.














sekiranya dalam masa akan datang aku menderhaka (naudzubillah..), ingatkan aku tentang kisah 19 mei ini.






May 19, 2011

sembilan puluh lima : objek mati.

Assalammualaikum w.b.t


Alhamdulillah,segala puji untuk-Nya yang memberiku peluang bernafas sehari lagi di atas muka bumi-Nya.






Apa jua jenis pekerjaan adalah tetap satu pekerjaan. dan kita tetap seorang manusia. bukan robot. atau objek mati.


pengalaman latihan industri (practical training) pertama aku adalah di sebuah tapak pembinaan di sebuah bandar utara perancis. menjadi buruh, untuk seorang perempuan seperti aku, adalah satu perkara terpelik yang pernah aku lakukan dalam hidup.


ia pelik. tapi bukan terburuk.


setiap pagi ketika sampai, rutinnya adalah kami dihidangi teh pudina (mint tea) yang manis semulajadi tanpa gula daripada seorang buruh Morocco sambil bersiap-siap memakai kasut keselamatan, uniform syarikat dan topi keledar keselamatan.


setiap petang sebelum pulang, rutinnya adalah aku berlumba siapa guna dahulu kontena pekerja. selalunya mereka membiarkan aku dahulu membersihkan diri. kerana pada awalnya, aku sering 'terhalau' (aku yang menghalau diri sendiri) kerana mereka, sang lelaki-lelaki ada yang sedang mandi, tidak berbaju, berjalan ke hulu ke hilir di dalam kontena sambil bergelak ketawa dengan buruh-buruh lain.


kalau tidak banyak, pasti ada secuit rasa dalam hati-hati kita untuk memandang rendah kepada golongan buruh.


jangan tipu. pasti ada.


namun, yang aku kagumi, engkau sikit pun takkan tahu pekerjaan mereka sebagai buruh sekiranya engkau terserempak dengan mereka di luar waktu kerja.


di waktu-waktu aku 'terhalau' keluar, bila sampai giliran aku menggunakan kontena, mereka keluar dengan penampilan biasa. rambut tersisir rapi, baju seluar tidak compang-camping atau ada kesan-kesan percikan lecak tanah, bau minyak wangi semerbak. sikit pun tak ada klu atau kaitan dengan pekerjaan mereka.


itulah pengajaran paling berharga aku terima yang tidak aku tuliskan di mana-mana bahagian dalam laporan latihan industri aku :


satu; jangan terlalu memandang rendah kepada pekerjaan sendiri walaupun pekerjaan engkau adalah biasa-biasa atau kecil sekalipun. kerana sekiranya engkau sendiri menghina pekerjaanmu, apatah lagi orang lain yang melihat. maka engkau sendirilah yang telah meletakkan dirimu di martabat lebih bawah daripada orang lain.


dua; aku ulang isi perenggan pertama entri ini, walau apa jua pekerjaan yang engkau lakukan, engkau tetap seorang manusia. bukan robot. atau objek mati.


pagi ini, ketika aku sedang menggelabah melakar-lakar idea untuk presentation tentang penggunaan sebuah software engineering (atau engineering software?), telefon syarikat berbunyi. aku mencapai telefon.


"hello. E**P**s***s Engineering.." kata aku selunak yang mungkin.


"bleh sambung to HR Department?" kedengan suara seorang perempuan di corong telefon.


aku tergamam. orang besar mana pulak telefon ni, tak ada greeting di awal bicara. sedikit kasar pada pendengaran aku.


"errr..sorry?" aku sengaja ingin dia mengulang.


"HR, HR! HR Department." katanya lagi. seperti menggesa.


"Oh. I'm sorry but the person in charge is not in yet." kata aku membelasah bahasa inggeris.


"ohhh... aaa, nak tanye ni. company ni amek practical tak?"


dalam hati aku menggerutu. pehhhh, student rupenye.


baca : tak semua yang jawab telefon office ialah receptionist. kalau receptionist sekalipun, adab berbahasa mesti mau jaga jugaklah, kawan!


sebab.


aku ulang.


walau apa jua pekerjaan yang engkau lakukan, engkau tetap seorang manusia. bukan robot. atau objek mati.



p/s : sebab kejadian pagi tadi, aku dah heret cerita sampai pengalaman aku kat France. gua ni memang bersimpang-siur ah cite. =.=

May 10, 2011

sembilan puluh empat [scheduled]

Assalammualaikum w.b.t


Alhamdulillah,segala puji untuk-Nya yang memberiku peluang bernafas sehari lagi di atas muka bumi-Nya.



copy paste : http://kahuna-movies.blogspot.com/2011/04/sidestepping-real-problem-why-france.html



Sidestepping The Real Problem : Why France Should Stop Being Stupid And Lift The Ban On The Burqa



France just passed the law banning the wearing of the burqa and niqab (face veil) in public which, to me, is a slap in the face and a kick in the balls to the nation's founding words: liberty, equality, fraternity.


I'm not speaking out because I'm a Muslim. I'm speaking out because I deem this an insanely massive violation of human rights. The French are the first ones to lash out against anybody who steps into their personal space or deprives them of free speech. In fact, the most common phrase in everyday French is "je m'en fous" (I don't give a shit) followed by "c'est comme tu veux", meaning "as you wish". And the most common phrase used to win an argument is "je fais ce que je veux" (I do whatever I want) and it's guaranteed foolproof. Rest assured that saying this can get you out of explaining yourself in any situation where you've obviously made a stupid decision and your plan backfired, but you don't want to lose face or hurt your ego. It gets people off your back instantly.


So it goes without saying that the French come hand in hand with their existentialist ways: I make my own decisions, you make yours, and I don't give a shit about what people think of me. They've been raised to say no to any kind of submission and to see everything with a skeptic magnifying glass, which is why they rejected religion and, as a group, are highly sarcastic.


Which raises the question: If you can practice your freedom of expression, why can't these women practice theirs?


My friends told me it's because these women are pressured by their husbands into wearing burqas, which is against the gender equality policy for which France has been fighting for so long. The problem is, most (if not all) of these women wear burqas voluntarily because of their faith, not because a man told them to. If it's their wish to do so, who are you to say they can't?


In my opinion, the ban on the burqa is a veiled (pun intended) attempt at ignoring the big elephant in the room, which is France's fear of Islamisation, a term they coined to denote the growing number of Muslims (mostly Arabs) in France and thus, the expansion of their cultural influences on the French constitution. It has nothing to do with protecting Muslim women from being oppressed by their husbands, or the fact that burqas might present a threat to society in the sense that hooligans could use burqas to hide their Kalashnikovs and rob banks in broad daylight.


The simplistic argument most used by the French to discredit the burqa (or any type of veil worn by Muslim women to cover their hair and body) is that it's degrading for women. For them, religion views women as lepers who should cover themselves in public. Anyone who obeys to this religious exigence is thus submissive and an outcast of the society.


The first thing they should understand is that the burqa is cultural in Arab countries, hence it shouldn't be associated with all Muslims.


Secondly, if a burqa is degrading because it reflects women's submission to men, then let me ask you a question. If a non-Muslim woman wears a sexy, body-fitting dress which hugs her curves in all the right places, is it not because she expects a certain degree of validation from onlooking men (and jealousy from onlooking women)? Is it not because she needs her physical prowess to be validated by others? This woman is thus dependent on people's perception of her body, which in turn brings her self-esteem and confidence. If her confidence is determined by men's approving glances, doesn't this constitute submission to men? Can this woman be considered in total freedom, or is she a slave to men's extremely high expectations when it comes to feminine beauty? A Muslim woman in a burqa doesn't need men to acknowledge her existence by using her physical attributes, which makes her independent of superficial prejudice. In this regard, she is more in control of her freedom than the skin-showing woman, which is a complete turnaround from the original stance that the burqa is degrading for women.


This is exactly why I think the French should stop getting their panties twisted, wipe the hypocrisy off their constitution, call a spade a spade, and deal with the issue at hand differently. I'm going to lay it down for you real easy: the French society views the Arab population as poor people with lack of education, benefactors of the French well-oiled health and social security system without contributing to it. They are perceived as a nuisance in an otherwise peaceful country, and their culture is impregnating the French national identity deeper and deeper, slowly shifting the traditional French values. This imposition is more and more seen as an invasion, as the Arabs are very vocal, passionate, and demanding when it comes to their culture. The problem is, the Arab population is multiplying exponentially and so is the visibility of their generally disliked habits. In areas of low-cost housing where the Arab population is predominant (usually in suburban areas of big cities), crime rates are very high.


So clearly what the French want is lower crime rates, which translates into smaller immigrant population, which also means "we need to get those Arabs out of here". That makes sense.


What doesn't make sense is, the crimes are the result of lack of income and education, and the burqa is not in any way the cause of these crimes. If there is a pressing need for any law to be reinforced in order to curb the uneasiness caused by the Arab population, banning the burqa is certainly not the way to start. It will only cause even more segregation between the French and the Arab populations, and increase sentiments of hate among the people.


Sidestepping the real problem by nitpicking on a garment is nonsensical. Time to strap on a pair and man up, France. Say what you really want to say, and stop penalizing the wrong people. Who cares if people see you as a bunch of fascist bastards. You can do whatever you want and you don't give a shit, remember?

May 7, 2011

sembilan puluh tiga : my rockstar

Assalammualaikum w.b.t


Alhamdulillah,segala puji untuk-Nya yang memberiku peluang bernafas sehari lagi di atas muka bumi-Nya.



pada satu malam, aku berkecoh-kecoh dengan ayah tentang direction jalan untuk ke satu destinasi. mama yang khusyuk menonton peserta Akademi Fantasia 9 kegemarannya tiba-tiba bersuara;


"bisinglah dua beranak ni. lepas akademi fantasia ni, kita pergi tengok jalan lah. susah sangat."


aku terkesima.


"hah ma? pukul beghape da ni, biar benar, ma?"


"takpelah. kita jalan-jalan. boleh cari buah pelam sekali. apelah, budak engineering pun buta jalan. engko bukan esok nak buat jalan ke?" diakhiri dengan gelak terkekeh-kekeh.


ayah sudah terhinjut-hinjut bahu ketawa. aku, di saat itu, terbakar tapi pasrah ajelah. bukan sekali dua, tapi berkali-kali aku jadi bahan. haihhh. mungkin kerana hampir semua dalam keluarga aku bekerja dengan negara (baca : government), maka aku yang terkeluar paksi sedikit mudah lah dijadikan bahan.


"sudah, jangan bising, nak dengar hazama ni." katanya sambil tangannya menghulur telefon bimbit kepada aku.


aku blurr.


"nak buat pe telefon mama ni?"


"ni hah... ina afundi sikit hazama ni. sedap dia nyanyi. nanti dia keluar minggu ni, habislah."


what the...?


aku pun akur. ayah sudah tak boleh berhenti tergelak-gelak. di saat aku menaip 'AFUNDI', mama berkata lagi ;


"na, afundi pukal yang 20 tu tau!"


ooo makk kau!


















happy mother's day, mama.
















p/s : malam itu kami pulang ke rumah jam 1215 malam.



May 6, 2011

sembilan puluh dua : hukum alam kah begitu?

Assalammualaikum w.b.t






Alhamdulillah,segala puji untuk-Nya yang memberiku peluang bernafas sehari lagi di atas muka bumi-Nya.








aku ada satu cerita.






tentang perempuan dan lelaki. kau boleh namakan mereka dengan apa sahaja nama yang kau mahu.






biar aku mulakan dengan sedikit latar belakang sang perempuan. sang perempuan datang dari keluarga yang sederhana, tidak terlalu kaya mahupun terlalu miskin. orang kebanyakan. orang biasa. ibu dan ayahnya juga pekerja biasa. ini juga bergantung kepada engkau, mahu bagaimana mencorakkan karektor ibu bapa sebelah perempuan, guru? juruteknik? pegawai kerajaan? jururawat? apa saja, sukahati. semuanya memang biasa. tetapi yang biasa ini tiba-tiba jadi luar biasa.






bila sang perempuan bertemu sang lelaki.






aku sikit pun tidak peduli bagaimana dan bila mereka berjumpa, sama ada ketika belajar, atau bekerja, atau ketika parking kereta, atau ketika makan, pokok pangkalnya, perempuan dan lelaki ini bercinta.






hinggalah pada satu hari, sang lelaki berkata,






"sayang, minggu depan cuti umum. Awak free tak?"






sang perempuan mencerlungkan sedikit matanya;






"free. nape? nak ajak jalan mana?" tanya dia.






"saya nak bawak balik kampung, jumpa mak ayah saya." jawab sang lelaki yang nampaknya dalam diam sudah merancang masa depan berdikit-dikit.






sang perempuan?






menggelabah.






bukan tidak suka. tetapi cuak! haruslah. bakal ibu mertua. seminggu sebelum tarikh pertemuan, sang perempuan sudah boleh diibaratkan seperti lipas kudung atau cacing kepanasan, memikir-mikir, pakaian apa yang sesuai disarung sepanjang keberadaan di kampung nanti? mestilah, mahu yang terbaik, indah-indah dan cantik-cantik sahaja di hadapan keluarga lelaki tersayang!






maka, hari yang dijanjikan pun tiba. kereta kancil merah yang dinaiki pasangan kekasih itu bergerak dari Puchong menuju ke sebuah destinasi di hujung dunia, Kampung Parit (rekaan semata-mata) di Yan, Kedah.






6 jam perjalanan, kancil merah merentasi jalan bersimpang-siur yang keras tanahnya, mengharungi hutan hijau yang masih tebal jarang diusik, akhirnya tiba di perkarangan rumah bakal mertua.






nampaknya, tidak semua mudah. kampung sama sekali tidak seperti di bandar atau kota.






sepanjang 25 tahun kehidupan sang perempuan, ini pertama kali dia menjejak kaki ke sebuah rumah yang masih berdapur kayu, hayatnya bergantung kayu api sebagai penghidup ; atau ke rumah yang bersumberkan perigi buat membersih diri ; atau ke rumah yang berlampukan mentol kuning bukan lampu kalimantang yang putih ; atau ke rumah yang itik dan ayam kadangkala melepak-lepak dan 'membuang hajat' di anak-anak tangga rumah.






sang perempuan?






menggelabah lagi.






bukan kerana benci. tetapi kerana tidak biasa. janggal. lebih-lebih lagi bila di malam hari, selepas makan malam, baju kurungnya lencun dek air basuhan pinggan untuk 11 adik-beradik yang masih kecil-kecil ; lebih-lebih lagi di malam hari, sebelum tidur, disuruh pula memasang kelambu mencucuh ubat nyamuk ; lebih-lebih lagi sebelum subuh, sudah harus bangkit membasuh beras untuk 14 beranak (tidak termasuk dirinya) untuk sarapan pagi nanti.






alih-alih, seminggu selepas 'lawatan Kampung Parit' , sang lelaki berkata ;






"saya minta maaf. kita tak ada jodoh. awak tak sesuai untuk saya."






kerana sang perempuan tidak pandai basuh pinggan, tidak pandai pasang kelambu atau cucuh ubat nyamuk, tidak pandai masak nasi goreng, tidak pandai 'chill' di rumah ibu. walhal, di mana peruntukan masa yang kau beri kepada dia untuk jadi 'pandai' dalam duniamu itu? seminggu satu hari? dan kau putuskan sang perempuan yang telah Tuhan nafaskan selama 25 tahun di bawah ibu dan bapa kotaraya itu, 'tidak sesuai bagi aku' .






baik.






cuba kau baca semula cerita ini. tapi kali ini, aku minta kau tukarkan watak perempuan kepada lelaki. kau fikir-fikir, penyudahan ceritanya bagaimana?












ah. jiwa kacau. aku tak boleh chill.