Assalammualaikum w.b.t
Alhamdulillah,segala puji untuk-Nya yang memberiku peluang bernafas sehari lagi di atas muka bumi-Nya.
aku tercengang dan ternganga merasa kelazatan keratan tulisan ini.
Oleh: Olav Iban
Tulisan ini telah diterbitkan dalam sebuah antologi berjudul 'Indulgensia Bunda'
*** keratan***
Suatu sore Bunda pernah bertanya, “Tahukah kamu mengapa Tuhan disebut Maha Besar?”
Aku hanya menggelengkan kepala menjawabnya. Pasti saat itu wajahku terlihat seperti sop yang belum sempat diberi garam karena Bunda kembali bertanya, “Tahukah kamu mengapa Ia juga disebut cinta kasih?”
“Tidak,” ujarku cepat. “Apakah Bunda tahu mengapa?”
“Tidak juga. Coba tanyakan sendiri pada-Nya mengapa.”
“Hah?”
“Baiklah akan Bunda jelaskan,” kata Bunda. Gigi-giginya saling merapat menahan tawa ketika menatapku. “Mungkin Tuhan akan berkata kepadamu seperti ini: Langit yang setiap pagi kamu lihat adalah mata-Ku. Bumi yang selalu kamu pijak adalah tubuh-Ku. Matahari yang setia menyinari harimu adalah nafas-Ku. Hujan yang menyegarkan keringatmu adalah lengan-Ku. Dan rembulan yang setiap malam menjadi tempat lamunanmu adalah telinga-Ku. Mungkin itulah yang membuat Ia menjadi maha besar.”
Aku mengangguk-angguk bodoh.
“Lalu mengapa Ia adalah cinta kasih?” tanyaku.
Bunda kembali meringis geli.
“Tahukah kamu bahwa semua yang Bunda sebutkan tadi sesungguhnya tidaklah penting bagi Tuhan? Karena hanya ruang kosong di tengah semua itulah yang terpenting bagi-Nya. Sebuah ruang kosong di antara langit dan bumi yang sekarang disesaki oleh lima milyar manusia dari segala ras dan agama. Karena ruang kosong itulah hati-Nya. Dan kamu, manusia, harus mengisi hati-Nya dengan cinta kasih.”
Itu kata Bunda.
Alhamdulillah,segala puji untuk-Nya yang memberiku peluang bernafas sehari lagi di atas muka bumi-Nya.
aku tercengang dan ternganga merasa kelazatan keratan tulisan ini.
Oleh: Olav Iban
Tulisan ini telah diterbitkan dalam sebuah antologi berjudul 'Indulgensia Bunda'
*** keratan***
Suatu sore Bunda pernah bertanya, “Tahukah kamu mengapa Tuhan disebut Maha Besar?”
Aku hanya menggelengkan kepala menjawabnya. Pasti saat itu wajahku terlihat seperti sop yang belum sempat diberi garam karena Bunda kembali bertanya, “Tahukah kamu mengapa Ia juga disebut cinta kasih?”
“Tidak,” ujarku cepat. “Apakah Bunda tahu mengapa?”
“Tidak juga. Coba tanyakan sendiri pada-Nya mengapa.”
“Hah?”
“Baiklah akan Bunda jelaskan,” kata Bunda. Gigi-giginya saling merapat menahan tawa ketika menatapku. “Mungkin Tuhan akan berkata kepadamu seperti ini: Langit yang setiap pagi kamu lihat adalah mata-Ku. Bumi yang selalu kamu pijak adalah tubuh-Ku. Matahari yang setia menyinari harimu adalah nafas-Ku. Hujan yang menyegarkan keringatmu adalah lengan-Ku. Dan rembulan yang setiap malam menjadi tempat lamunanmu adalah telinga-Ku. Mungkin itulah yang membuat Ia menjadi maha besar.”
Aku mengangguk-angguk bodoh.
“Lalu mengapa Ia adalah cinta kasih?” tanyaku.
Bunda kembali meringis geli.
“Tahukah kamu bahwa semua yang Bunda sebutkan tadi sesungguhnya tidaklah penting bagi Tuhan? Karena hanya ruang kosong di tengah semua itulah yang terpenting bagi-Nya. Sebuah ruang kosong di antara langit dan bumi yang sekarang disesaki oleh lima milyar manusia dari segala ras dan agama. Karena ruang kosong itulah hati-Nya. Dan kamu, manusia, harus mengisi hati-Nya dengan cinta kasih.”
Itu kata Bunda.






















